Mengingat dan Merenung

Assalamualaikum Wr.Wb.

I am back.
Setelah tulisan pertama saya di Sekapur Sirih, saya belum menulis lagi. Banyak hal di luar yang mengganggu sehingga aktivitas menulis sedikit tertunda. Semenjak melahirkan saya belum menemukan kembali performa saya untuk membagi waktu dengan baik. Terlebih sekarang anak kesayangan sudah bisa berjalan, aktifitas yang sifatnya pribadi menjadi sedikit terhambat karena si kecil selalu ingin ditemani bermain. Jika dalam kesibukan dia ngutak atik barang saya diam-diam menuju laptop, maka dia dengan gaya jalannya yang lucu akan menghampiri saya dan menarik-narik tangan saya. Saya pikir dia ingin pegang-pegang laptop juga. Tapi, setelah saya menjauh dia pun lupa dengan laptop dan malah membuntuti kemana saya pergi.

"Hehe, ada yang minta ditemenin main ya," sambil menggandeng tangan si kecil.

Selama 2 minggu lebih setelah kepulangan suami dari China dan saya dari Jambi, banyak hal yang terjadi. Terkhusus pada suasana sekitar rumah dan suasana dimana suami saya bekerja. Saya tinggal di suatu cluster yang didirikan oleh Bos suami saya. Disini hanya ada sekitar 8 rumah dan hampir semua telah terisi hanya saja satu rumah masih dalam tahap pembangunan. Rata-rata penghuni cluster di sini bekerja di perusahaan yang sama karena pada awalnya cluster ini memang diperuntukkan untuk pegawai, namun seiring berjalannya waktu beberapa rumah dan tanah yang masih kosong di jual pada khalayak umum.

Kurang lebih dua tahun yang lalu, saya kesini (puspiptek serpong) namun masih dalam status lajang. Saya datang sebagai mahasiswa S2 yang sedang  mencari pekerjaan agar waktu kosong tidak menganggur. Kebetulan jadwal kuliah saya hanya hari sabtu saja. Untuk itu saya datang menemui Dr. Nurul Taufiqu Rochman di Puspiptek. Pak Nurul merupakan pembimbing skripsi saya di LIPI ketika saya penelitian untuk tugas akhir saya. Ketika saya dinyatakan lulus, saya langsung SMS pak nurul untuk memberitahukan bahwa saya diterima kuliah s2 di UI dan kuliah hanya hari sabtu saja. Saya juga menyampaikan keinginan saya untuk masuk Nanotech (merupakan perusahaan yang didirikan oleh pak nurul yang bergerak di bidang nanoteknologi). Mungkin inilah yang namanya takdir. Inilah yang menjadi pembuka jalan saya bertemu belahan jiwa saya. Saat itu saya satu kantor dengan suami saya yang juga bekerja bersama pak nurul. Satu bulan bersama-sama, akhirnya dia melamar saya pada orang tua saya (cerita lengkapnya, next ya...^^). Singkat cerita, kami menikah dan tinggallah kami di salah satu rumah di cluster yang juga menjadi salah satu bisnis pak nurul.

Saya sangat senang tinggal disini karena tetangga-tetangganya adalah orang-orang yang tidak asing bagi saya. Jika diingat-ingat mungkin udah sekitar 3~4 tahun kenal. Jadi sudah tidak canggung lagi bahkan sangat akrab. Salah satu yang sangat dekat adalah keluarga Pak Jun. Ketika skripsi, Pak Jun lah yang banyak membantu saya dalam segala hal terkait penelitian saya secara teknis. Selain itu, Bu Jun adalah orang yang paling banyak jasanya bagi semua orang yang dulu masih membujang. Termasuk saya. Makan di rumah Bu Jun membuat kami-kami menjadi dekat. Rumah pak jun pasti akan selalu ramai dengan kehadiran bujang-bujang yang asik main PS. Hmm...kalau saya paling hanya numpang nonton tv. Kadang-kadang saya juga main PS sama suami (dulu masih temen aja,hehe). Yah, intinya dulu kami sangat harmonis. Semenjak menikah dan taraf kehidupan semakin baik suasana mulai berubah. Wajar saja karena baru membangun rumah tangga dan sudah mulai merubah mindset. Saya urusannya ya lebih banyak di rumah. Tapi tidak mengurangi keakraban dengan keluarga pak jun. Hanya saja caranya berbeda. Dulu sering main karena numpang nonton, main PS, modus buat ketemu pujaan hati (hehe), numpang makan, main-main. Setelah menikah yang ngurus rumah dan suami jadi pekerjaan utama.

Yah, itu sekarang hanya menjadi kenangan saja. Karena akhir maret 2016 lalu keluarga pak jun memutuskan untuk pulang semua ke Malang. Masih menjadi tanda tanya bagi saya dan suami. Kenapa sampai harus pergi semua. Kami menyimpulkan sendiri dan hanya kami simpan sendiri. Sedih. Sangat sedih. Ketika semuanya lebih baik, ketika semua usaha keras yang dilakukan dulu-dulunya mulai terlihat buahnya, harus ada yang berkorban. Atau dikorbankan. Saya sangat menyadari disetiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi apakah mesti seperti ini kami berpisah. Bagi saya dan suami, keluarga pak jun sudah seperti keluarga sendiri. Kami menghormati mereka seperti orang tua sendiri. Dengan keberadaan mereka, kami merasa aman karena ada yang dituakan.

Melihat kondisi sekarang yang seperti ini, membuat saya merenung. Inilah bisnis. Terjun dalam dunia bisnis mengharuskan kita siap segala-galanya. Kawan menjadi lawan. Musuh dalam selimut. Fitnah. Saling menjatuhkan demi posisi tertentu, sangat alot terjadi dalam dunia bisnis. Makan atau di makan. Bahkan suami saya pun kini sedang dalam posisi tersebut. Posisi dimana ketika seseorang ingin berkembang, ada orang lain yang kurang senang sehingga apapun yang dilakukan dianggap salah. Dan percaya atau tidak bisa jadi orang tersebut adalah orang yang paling dekat dengan kita. Dan kalau saya lihat, apalagi semenjak pak jun dan keluarga tidak lagi disini. Suasana rumah menjadi semakin terasa adanya nuansa kompetisi yang sepertinya kurang sehat karena mengandung unsur iri dan dengki. 

Sangat tidak enak berada di posisi seperti itu. Really. Menurut saya daripada terjebak pada permainan psikologi seseorang yang iri dan dengki pada kita lebih baik kita keep movin' forward. Belajar dari apa-apa yang telah terjadi baik pada diri sendiri maupun orang lain. Jika terlalu terjerumus pada permainannya, nantinya kita akan berada pada posisi dimana kita akhirnya harus berkorban dan bisa jadi pengorbanan yang harus dilakukan adalah pergi. Meninggalkan semua kenangan dan pencapaian yang membuat kita menjadi kita yang sekarang. Kata orang Jujur itu langka. Kata saya bukan hanya jujur yang langka. Ikhlas dan syukur adalah 2 kata yang mengikuti "jujur" yang apabila dimiliki seseorang, dia akan menjadi sangat kuat. Bagaimanapun orang lain ingin menjatuhkan dia tidak akan mudah goyah. Jujur dalam bertindak dan bertingkah laku, dalam setiap amanah yang diberikan. Bersyukur pada apa saja yang di dapat,entah itu hasil dari pekerjaan tertentu, hasil berupa pujian maupun makian, ikhlas, akan membuat pikiran dan hati menjadi tenang dan selalu positif. Kemudian ikhlaslah, bahwa semua yang terjadi pada kita dan yang kita dapatkan adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah.

Dan dengan kepergian keluarga pak Jun pun, mungkin sudah begini jalannya. Dengan kondisi yang seperti sekarang, saya dan suami berusaha semaksimal mungkin menjadi orang yang positif. Terkadang rindu keramaian mendengarkan suara Bu Jun teriak-teriak memanggil cucunya. Dulu berasa hanya punya satu tetangga, sekarang seperti tak punya. Pada akhirnya, kita harus ikhlas menerima perpisahan namun tidak berarti silaturahmi menjadi terputus. 

Yah, sekarang kondisinya harus seperti ini. Terima saja dengan ikhlas dan tentunya tetap maju kedepan. Abaikan orang-orang yang memiliki aura negatif agar aura positif kita tidak luntur.




Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Komentar